​
Tampilkan postingan dengan label israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label israel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Februari 2014

5 Pemimpin Hamas Paling ditakuti Israel

Rabu, 21 November 2012

Hamas merupakan sebuah organisiasi yang ditakuti oleh negara Israel, Hamas menjadi salah satu pejuang yang tetap memperjuangkan tanah Palestin  agar tidak di Jajah oleh Israel, bangsa palestin  pernah bersumpah tidak akan membuat tenang orang orang yang telah menduduki tanah Palestin  sehinga apa yang dilakukan oleh pejuang palestin  bukan merukan aksi terorisme melainkan aksi untuk mengambil haknya negaranya yang telah dirampas dari Israel. Ada beberapa pemimpin Hamas yang sangat ditakuti Israel jika Israel mendengarkan nama pemimpin Hamas ini maka akan bergetar dan kaget. 
Pemimpin hamas tidak takut pada siapapa pun termaksut kekuatan besar dunia Amerika serikat inilah yang membuat Israel takut dan selalau memburu dan ingin membunuh pemimppin Hamas dengan cara apapaun. Nah berikut ini ada beberapa pemimpin Hamas paling ditakuti Israel seperti dikutip dari situs meredeka.com.
1. Syekh Ahmad Yasin 
Syekh Ahmad Yasin
Syekh Ahmad Yasin atau Ahmad Ismail Yasin pemimpin spiritual Palestina. Dia lahir di Desa al-Jaurah, sebuah perkampungan dengan Jalur Gaza pada 1 Januari 1938. Di usia kanak-kanak, dia dan keluarganya telah menjadi pengungsi sebab pecah perang antara dunia Arab dengan Israel.
Saat remaja, Syekh Ahmad Yasin telah mengalami kelumpuhan sebab salah dalam melakukan olahraga. Tak hanya lumpuh, dia pun menjadi buta namun ini tidak mengurangi semangatnya untuk belajar. Kecerdasannya membuat ia mampu menyelesaikan sekolah dengan baik bahkan diterima di Universitas Al Azhar, Ibu Kota Kairo, Mesir walau tak sampai tamat karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan melanjutkan perguruan tinggi.
Dia mendirikan organisasi Harakatul al-Muqawamah al-Islamiyah atau Hamas. Dari atas kursi rodanya, dia mampu membangkitkan semangat rakyat Palestina untuk melawan Israel. Suaranya parau tapi bisa mengubah batu menjadi senjata AK-47 yang menghancurkan kendaraan lapis baja Zionis.
Negara Bintang Daud itu takut padanya, takut pada kalimat-kalimat serta pemikirannya bisa menggerakkan puluhan ribu warga Palestina untuk melawan Israel. Syekh Ahmad Yasin menjadi target pembunuhan utama. Dia terbunuh pada 2004 oleh tiga roket Israel saat pulang dari shalat subuh di masjid setempat.
2. Abdul Aziz Rantissi
Abdul Aziz Rantissi
Abdul Aziz Rantissi merupakan sohib kental Syekh Ahmad Yasin. Bersama, keduanya mendirikan organisasi Harakatul al-Muqawamah al-Islamiyah atau Hamas. Jika otak utama Hamas adalah Yasin, Rantissi dikenal juru bicara anti-kompromi dengan Israel. Dia bahkan menentang dan memutuskan diskusi dengan Perdana Menteri Palestina Mahmud Abbas yang menyerukan gencatan senjata dengan Negeri Zionis itu.
Saat sahabat terdekatnya, Yasin, terbunuh. Rantissi maju menjadi pemimpin Hamas. Dia memanggil ribuan pendukungnya di Gaza dan mengumumkan perang dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat. Dia pernah mengatakan, jika harus memilih mati sebab ditembak Israel atau berpenyakit jantung, ia memilih yang pertama. Kata-katanya terbukti. Tak lama setelah kematian Yasin, Rantissi dihabisi Angkatan Pertahanan Israel dengan berondongan peluru.
3. Yahya Ayyas
Yahya Ayyas
Yahya Ayyas lahir di Kota Rafah, Palestina, pada 6 Maret 1966. Dia masuk dalam barisan Brigade Ezzul Deen Al Qassam, kelompok sayap Hamas. Dia lulus dan mendapat gelar sarjana elektro dan menjadi otak dibalik pembuatan senjata serta bom kelompok itu.
Ayyas sangat ditakuti Israel sebab keahliannya merakit bahan peledak itu. Senjata ciptaannya telah membunuh ratusan tentara dan sipil Negeri Zionis. Ayyas terbunuh oleh Agen Mata-Mata Israel bekerjasama dengan salah satu anggota Hamas membelot. Dia meledak bersama telepon yang ternyata adalah bom.
4. Syekh Izzudin al-Qassam
Syekh Izzudin al-Qassam
Syekh Izzudin al-Qassam salah satu tokoh utama pergerakan pembebasan Palestina dan dunia Arab. Dia pencetus kalimat, umat Islam harus membantu diri mereka sendiri sebab tidak ada orang lain bakal membantu. Namanya diabadikan menjadi kelompok sayap Hamas karena pandangannya banyak mempengaruhi ribuan pemuda muslim untuk mengikuti jalannya.
Syekh al-Qassam bertinjauan mencerahkan para pemuda untuk bangkit sadar politik dan perlawanan bersenjata sebagai bagian dari perjuangan seorang muslim melawan penjajahan barat.
5. Ahmad Said Khalil al-Jabari
Ahmad Said Khalil al-Jabari
Nama lengkapnya Ahmad Said Khalil al-Jabari. Dia pemimpin sayap Hamas kemarin terbunuh oleh roket Israel. Dia garda depan perundingan pertukaran tawanan Palestina dengan tahanan Zionis. Sebagai ketua tertinggi berigade paling ditakuti Israel, dia menjadi target utama pembunuhan oleh Agen Rahasia Israel Mossad.
Kemampuan al-Jabari dalam memimpin sayap militer Hamas ini dengan cepat berkembang dan dalam waktu singkat kelompok masih berupa milisi menjadi semi militer dengan lebih dari 10 ribu pasukan yang terbagi dalam tugas dengan tingkatan tertentu. Setiap tugas dan tingkatan ini dimaksimalkan pada unit-unit khusus. Dia juga membangun beragam gudang senjata untuk Brigade Izzuddin Qassam dan sebagian senjata itu diproduksi sendiri, persis kehebatan pendahulunya, Yahya Ayyas.
Perlahan tapi pasti, al-Jabari menjadi masalah terbesar Israel. Dengan serangkaian bombardir dilancarkan pekan ini, pemimpin itu akhirnya tewas dengan roket ditembakkan pasukan Zionis.
* Sumber palingseru.com
 gendang perang
{ Read More }


Senin, 02 Desember 2013

George Wenur Tersentuh Azan di Tepi Israel

George Wenur, Tersentuh Azan di Tepi Israel (I)


Hawa dingin Perth, Australia mengantarkan Republika bertemu seorang general manajer hotel terkemuka di kota tersebut, Rabu (23/5). Dia adalah George Wenur yang kini menjadi nahkoda King’s Hotel Perth. Sosok enerjik ini bukan pemain baru di dunia perhotelan. Bersama manajemen hotel Four Season, dia sudah melanglang buana mengelola bisnis yang satu ini.


Selidik punya selidik, penggemar motor gede Harley Davidson ini ternyata seorang mualaf. Sebenarnya dia terlahir sebagai seorang katolik. Namun demikian George menghabiskan masa kecilnya di lingkungan Islam. Di tumbuh di sekitar Masjid Al Falah, Surabaya. Sejak masa kecil itulah sebenarnya dia sudah mulai kontak dengan Islam.



Setamat dari SMA Santa Maria Surabaya, dia kemudian meneruskan kuliah perhotelan di Swiss. Setelah tiga tahun kuliah, George yang lahir 4 Oktober 1960 ini kemudian terjun ke dunia kerja. Setelah beberapa saat mencoba kerja di hotel, pada tahun 1986 dia ingin mencoba dunia baru dengan bekerja di kapal pesiar asal Italia. Dari sinilah kisah hidupnya berubah.



Saat mulai bekerja di kapal, dia berkawan dengan seorang warga Iran dan warga Irak. Bersama kedua orang ini dia sering berbincang soal Islam. Sebelum di kapal, dia juga pernah punya teman kerja di Venesia bernama Samir. Warga Irak ini menjadi teman satu kamar George saat tinggal di kota tersebut.



Setelah sembilan bulan kerja di kapal, kejadian tidak lazim mendorongnya membuat perubahan besar dalam hidup. Saat itu, kapal tempatnya bekerja melintas di sekitar perairan Ashdod, yang diduduki Israel.



Kapal ini memang melayani rute wisata menyusur Laut Mediterania. Kota Ashdod menjadi salah satu titik persinggahannya. Jadi, dalam setiap rute perjalanan mengelilingi Mediterania, George singgah di kota tersebut.



Di bulan kesembilan kerja di kapal itulah dia mendengar suara azan dari speaker kapal saat posisinya berada dekat perairan Ashdod. Dia berpikir, suara azan itu diputar oleh petugas radio komunikasi kapal. Namun George tidak lantas begitu percaya pada sangkaannya itu. Dia cek ke petugas radio komunikasi.



“Tapi ternyata mereka mengatakan tidak membunyikan siaran azan,” ujar George. Saat itu kira-kira tiba waktunya untuk shalat shubuh. Karena tidak ada yang menyiarkannya, suara azan ini pun mengundang rasa penasaran yang sangat besar. George berpikir keras untuk menemukan asal muasal panggilan azan tersebut.



Sambil berpikir, pekerjaan di kapal pesiar terus saja dijalaninya seperti biasa. Pada kesempatan berikutnya, kejadian yang sama terulang. Dia mendengar suara azan dari pengeras suara di dalam kapal saat menjelang shubuh di dekat Ashdod. Dia kembali mengecek ke petugas radio komunikasi, dan ternyata mereka tidak menyiarkan azan.


Sebelum mendengar azan, George sudah sering berdialog dengan rekan-rekannya yang Muslim. Salah satu tema perbincangan yang membuatnya berpikir banyak soal Islam adalah tentang kitab suci. Di situ intinya terungkap bahwa Alquran adalah kitab suci yang menyempurnakan kitab suci-kitab suci yang diturunkan sebelumnya oleh Allah SWT.



Dua kejadian inilah yang kemudian mendorongnya kuat untuk berpindah agama dari Katolik menjadi Islam. “Saya langsung ke Masjidil Aqsha untuk menemui imamnya,” tutur dia. Upayanya itu pun berhasil. Di masjid inilah dia kemudian mengucap syahadat untuk menyatakan masuk Islam. 



Saat itu, George berusia 26 tahun dan belum berkeluarga. Selepas mengucap syahadat, George mengontak kedua orang tuanya. “Saat itu ibu saya menyatakan bisa menerima dengan lapang dada dan bapak saya diam,” tutur George. Begitu masuk Islam, George merasakan suasana batin yang lebih nyaman dibanding sebelumnya.



Pada tahun 1989 dia kemudian pulang ke Surabaya dan berhenti kerja di kapal pesiar. Di kota ini dia memperdalam Islam selama setahun. George banyak menghabiskan waktu di Masjid Al Falah untuk lebih mengenal Islam. Kontak dengan teman-teman kecil dan teman sekolahnya pun terus dijalin. Saat itu dia sudah menikah dengan perempuan asal Surabaya.



Pria yang setelah masuk Islam juga punya nama Muhammad Yusuf ini juga tetap bergaul dengan teman-teman Katoliknya. Kebanyakan teman, kata dia, tidak mempersoalkan keputusan pindah agama. Ada satu teman, yang kemudian menilai George telah menghianati Yesus. “Tapi saya katakan tidak, dalam Islam saya tetap percaya Isa,” kata ayah dua orang putra ini.


Dari saudara ibunya, dia juga mengaku sempat mendapatkan penentangan atas keputusannya memeluk Islam. Tapi, penentangan itu tak digubrisnya. Lama-lama situasi pun berubah normal. Ayahnya yang semula menanggapi dengan diam, perlahan-lahan bisa menerima keputusan George untuk meninggalkan Katolik menjadi seorang Muslim.



Selain kenyamanan, satu hal penting yang juga menjadi nilai tambah buat dia setelah masuk Islam adalah kedisiplinan. Sejak masuk Islam, dirinya merasa lebih disiplin dalam segala hal. Karena memang Islam banyak sekali mengajarkan tentang kedisiplinan.



Setelah setahun mendalami Islam di Surabaya, dia kemudian bergabung dengan manajemen Hotel Four Season dan ditempatkan di Bali. Setalah itu dia dipindahkan ke Jakarta. Selanjutnya di tahun 1998 dia pindah ke Amerika, Kanada, dan Turki. Di berbagai negara yang ditinggali, George mengaku tidak ada masalah dengan Islam.

Kemudian sejak tahun 2007, dia memilih pindah ke Perth, Australia, dan keluar dari Four Season. “Ini karena anak saya kuliah di sini sehingga kami memilih pindah,” ujar dia. Di Perth dia bergabung dengan King’s Hotel sebagai general manager. Di kota ini, dia pun tetap nyaman untuk menjalankan aktivitas keislamannya dengan baik.




source
{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest